Tuesday, April 19, 2011

Kehidupan Mewah Para Bajak Laut “Perompak” Somalia

Suara di seberang sana terdengar lantang. “Enggak ada info. No comment!” ujar seorang perompak yang dihubungi jaringan media Inggris, BBC. Ali Jamaal, si perompak, sedang cemas menanti uang tebusan yang dijanjikan. Kala itu, dua tahun lalu, Jamaal baru saja membajak kapal berbendera Ukraina, MV Faina, yang mengangkut lebih dari 30 tank milik Angkatan Bersenjata Rusia. Jamaal meminta tebusan US$ 2 juta atau sekitar Rp 18 miliar! “Bajak laut sudah jadi bisnis yang menggiurkan,” kata Direktur Badan Narkoba dan Kriminal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Maria Costa.
Salah satu potret kehidupan kelompok kecil dari bajak laut yang sempat diabadikan media
Salah satu potret kehidupan kelompok kecil dari bajak laut yang sempat diabadikan media
Tak mengherankan jika mereka hidup serba berkecukupan. “Punya banyak istri cantik, rumah mewah, mobil baru, dan senjata baru,” kata Abdi Farah Juha, seorang warga di Garowe, ibu kota Somalia. Mereka kebanyakan berasal dari Puntland, wilayah di timur laut Somalia.
“Kebanyakan usia mereka 20-35 tahun,” tutur Juha lagi. Tak aneh pula bila mereka jorjoran membelanjakan duit mereka. “Mereka ini pelanggan terbaik,” kata Mohamed Ali Yarow, pemilik pusat busana pria, di Garowe. “Maka banyak cewek cantik yang demen.” Bahkan pernah sekali waktu, kata Yarow, seorang pelacur girang bukan kepalang lantaran diberi duit setara dengan Rp 10 juta. “Makanya banyak gadis bermimpi menikah dengan perompak.”
http://iwandahnial.files.wordpress.com/2009/04/somalia.jpg
Bile Mohamoud Qabowsade, penasihat senior Presiden Puntland Adde Muse, pernah mengatakan, “Para perompak itu memang tak populer di kota besar, tapi secara sosial amat berpengaruh di desa-desa.” Banyak pengusaha lokal yang meminjam duit kepada para perompak ini.
Menurut Qabowsade, aksi perompakan marak lantaran banyak pemuda menganggur akibat sulitnya mencari pekerjaan. Menjadi nelayan pun mereka kesulitan. “Mereka kalah bersaing dengan kapal-kapal pukat ilegal,” katanya. Para perompak itu berasal dari tiga kelompok: bekas nelayan, milisi, dan ahli teknologi. Bekas nelayan ini umumnya mengendalikan operasi karena mereka paham wilayah. Sementara itu, bekas milisi biasanya bertugas di garis depan membawa senjata.
Adapun ahli teknologi bekerja mengoperasikan peralatan canggih, seperti telepon satelit, GPS, dan peranti keras militer. “Mereka jarang berkelahi karena masalah duit,” kata Abdulkadil Mohamed, warga Garowe. Karena itu, mereka enggan menyebut diri mereka perompak. “Mereka menyebut diri mereka penjaga pantai.”

Sunday, April 17, 2011

Perompak Somalia Harus Dihadapi dengan Militer
Gaya Tengil Rampok Somalia

11/04/2011 11:04

VIVAnews - Pemerintah Somalia menyesalkan adanya penangkapan warga negara Indonesia oleh perompak di perairan Teluk Aden. Somalia juga mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu meminta izin kepada pemerintah Somalia untuk menyerang perompak di perairan mereka, langsung masuk saja.

Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Somalia untuk Indonesia, Mohamud Olow Barow di Jakarta, Rabu, 13 April 2011. Pada kesempatan itu, dia meminta maaf atas apa yang terjadi terhadap para 20 anak buah kapal asal Indonesia.

"Kami meminta maaf atas apa yang terjadi di Somalia terhadap kapal Indonesia. Ini adalah perbuatan kelompok kriminal yang tidak bertanggung jawab. Kami turut prihatin atas peristiwa ini," ujarnya.

Dengan bahasa Indonesia yang fasih, Barow mengatakan bahwa para perompak adalah preman-preman yang harus dibasmi. Hal ini, ujar Barow, adalah juga merupakan tugas dari masyarakat internasional.

Saat ini telah lebih dari 20 negara yang menurunkan angkatan lautnya di perairan rawan perompak Somalia. Indonesia belum menurunkan gugus tugas di wilayah ini, maupun melakukan serangan ke perairan Somalia, yang diyakini tempat ABK kapal Sinar Kudus ditawan. Pemerintah berdalih, untuk melakukan penyerangan ke perairan Somalia, perlu terlebih dulu meminta izin pemerintah Somalia.

Namun, Barow mengatakan bahwa perairan Somalia bebas dimasuki siapa saja yang ingin memberantas para perompak. Dia menegaskan bahwa hal ini telah ditetapkan oleh resolusi 1916 tahun 2008 Dewan Keamanan PBB yang dibuat berdasarkan desakan dari pemerintah Somalia sendiri yang mengaku kewalahan menghadapi para perompak.

"Indonesia tidak perlu minta izin, kami sudah mengizinkan kapal-kapal asing masuk ke perairan maupun daratan Somalia," tegasnya.

Barow mengatakan bahwa pemerintahnya telah lepas tangan dari para perompak. Dia mengatakan bahwa negara-negara lain bebas melakukan apa saja terhadap para perompak tersebut.

"Perompakan adalah haram. Silahkan masuk dan bunuh saja preman-preman itu. Kami tidak ada masalah," ujar Barow.

Jika memang Indonesia siap menyerang, ujar Barow, pemerintah Somalia siap memberikan bantuan apapun, kecuali bantuan tenaga militer karena militer angkatan laut Somalia minim persenjataan dan tanpa kapal perang.

"Kami akan membantu informasi intelijen dan masukan-masukan lainnya terkait keberadaan dan sifat dari para perompak," ujar Barow.

Jika tertangkap, tegasnya, pemerintah Indonesia dapat mengadili para perompak di Indonesia. Hal serupa pernah dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan dan Amerika Serikat yang mengadili para perompak Somalia di negaranya.

"Mereka bisa dihukum di Indonesia, silakan saja, karena perbuatan mereka telah masuk ke kejahatan internasional," kata Barow. (eh)
sumber:http://dunia.vivanews.com/news/read/...-masuk-somalia
sumber:http://berita.liputan6.com/hukrim/20...dengan_militer

Sudah ditebus belom ya?? Jangan2 buat bangun gedung DPR lagi......Ayo serang Perompak Somalia dengan perhatikan sandera tentunya. Menyinggung soal Malingsia mau membantu NKRI..hiraukan saja, toh konon "tentara laut" mereka yang mengajarkan TNI kita (Kopaska), untuk apa bantuan mereka awas ada kesempatan diruang kesempitan!!

Kita punya tentara elit yang bisa di andalkan! 
oia mungkin sebagian belon tau Denjaka itu apaan...kalo kopasus pasti dah pada tau kan? ini sedikit informasi tentang Denjaka (sorry kalo repost)
Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah detasemen pasukan khusus TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL. Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut). Lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya Denjaka memang dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Denjaka memiliki tugas pokok membina kemampuan antiteror dan antisabotase di laut dan di daerah pantai serta kemampuan klandestin aspek laut.

BRAVO DENJAKA...BRAVO KOPASUS!!
Bantai mereka setelah selamatkan sandera!!